Ilmu Bukan Cuma Ada di Tempat dengan Buku di Dalamnya

Pagi ini pada hari Selasa (27/09/22) – kelas peminatan jurnalistik dan enterpreneur mengadakan kegiatan outing class dengan tujuan Bungker Solo dan Benteng Vastenburg. Kegiatan ini juga menjadi kolaborasi antara jurnalistik dan enterpreneur yang kedua setelah acara buka puasa bersama di bulan lalu. Free day after exam kami gunakan setelah pelaksanaan PTS dan STS Gasal yang baru saja selesai beberapa hari lalu.

Kami memulai perjalanan outing class dengan menaiki BST di Terminal Kartasura. Sebelumnya, kami menuju Terminal Kartasura menggunakan aplikasi ojol yang begitu membuat boros waktu. Namun tidak perlu khawatir karena BST di koridor 3 akan menunggu penumpangnya lebih lama dari bst lainnya khusus di Terminal Kartasura.

Bersyukur selama berada di bst anak-anak mutu ini begitu peka akan sekitar. Hampir di setiap halte yang didatangi dan mengangkut penumpang salah satu diantara anak murid mutu pasti berdiri dari duduknya dan mempersilahkan penumpang lain untuk duduk. Yang berarti mereka tidak melupakan jargon khas dari SMP Muhammadiyah 7 program unggulan yaitu, characters smarter for a better future. Yang berarti kami selangkah lebih maju untuk memiliki karakter yang dapat menjadikan diri sebagai kader di masa depan.

Karena kader bukan hanya seorang pemimpin dengan jiwa berani dan percaya diri juga cerdas. Namun juga peka terhadap sekitarnya dan orang lain. Tidak egois dan mau mengalah.

Kembali lagi, walaupun ini termasuk kegiatan healing dan outing class, kami anggota jurnalistik tetap mendapatkan sebuah tugas untuk mewawancarai sopir bst dan penumpang di dalam bst tersebut. Awalnya memang sedikit ragu terlebih pada bagian mewawancarai sopir bst. Membayangkan bagaimana sopir yang harus fokus berkendara namun juga menjawab pertanyaan dari kita. Seberapa sulitnya itu. Namun alhamdullilah, beliau (sopir BST) menjawab.

Namanya adalah Bapak Sugiyono selaku sopir bst koridor 3 yang sudah menjadi seorang sopir kendaraan besar sejak tahun 1988 pada masa kepemimpinan bapak Soeharto. Bayangkan seberapa lamanya jika dihitung sampai sekarang. Bukan hanya sebuah bis, beliau juga pernah menjadi sopir truk besar. Hebat bukan?

Kami bercakap-cakap banyak selama perjalanan menuju ke bungker Solo. Termasuk menanyakan tanggapan mengenai image sopir bst yang sering dibilang ugal-ugalan oleh banyak orang terlebih di sosial media.

“Anak saya yang paling kecil itu sudah masuk SMA dan perguruan tinggi di UMS. Kalau di sosmed ngomong (BST) ugal-ugalan padahal kalau ugal-ugalan sama-sama buang uang sama-sama bunuh diri. Kalau orang-orang di sosmed sering bilang ugal-ugalan masalahnya orang-orang yang ngomong kayak gitu belum tau cara kerja bis, yang (perjalanannya) dibatasi waktunya.” ujarnya Bapak Sugiyono.

Outing Class Jurnalistik dan Entrepreneur

Ini juga menjadi pelajaran bagi kita bahwa banyak hal yang memang sudah di setting sedemikian rupa. Seperti sopir bis yang harus mengejar waktu, penyanyi yang suaranya harus bagus, dan karyawan kantor yang harus rela duduk berjam-jam mengurusi banyak proposal ataupun berkas kantor. Semua hal sudah di setting seperti apa yang seharusnya. Dan pastinya semua hal akan ada baik buruk dan resiko tersendiri. Seperti ujaran dari bapak Sugiyono tadi.

Resiko menjadi sopir BST yang sering dipandang sebelah mata karena mendapat image ugal-ugalan padahal memang sudah seharusnya mereka mengemudi cepat agar tidak terlambat dari jam operasional. Jika mereka terlambat pun pasti ada denda salah satunya adalah, pemotongan gaji. Walau memang tetap ada oknum sopir yang tidak bertanggung jawab dan berlaku seenaknya menyalahgunakan hak sebagai sopir bis yang dikejar waktu.

Kami juga berkesempatan mewawancarai penumpang di bst mengenai pengalaman tidak mengenakan yang dialami sewaktu menaiki BST.

“Pernah, karena suara saya kecil waktu meminta turun halte malah keblabasan sampai halte selanjutnya. Dan alhamdulilah gak pernah merasakan pelecehan seperti yang sering ada di berita-berita.” ujar Carolina salah seorang penumpang BST.

Dari kutipan wawancara di atas bisa disimpulkan bahwa ilmu tak harus ditemukan di dalam sebuah buku, di sebuah perpustakaan, sekolah, maupun tempat yang identik dengan buku. Buku memang penuh dengan ilmu. Namun ilmu pasti adalah ketika sudah di praktekan oleh orang-orang. Termasuk ketika mendapat banyak ilmu dan informasi mengenai bst dari sopirnya langsung.

Tiara, Farida, Nadia (7)
270922

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *