Oleh : Lukman Safar

Perkembangan remaja ditandai dengan adanya beberapa tingkah laku, baik tingkah laku positif maupun tingkah laku yang negatif. Hal ini dikarenakan pada masa ini, seorang remaja mengalami masa panca roba dari masa anak-anak ke masa remaja.

Perilaku suka melawan, gelisah, dan labil seringkali melanda remaja pada masa ini. Namun demikian, berkembangnya perilaku ini, pada dasarnya sangat dipengerahui oleh adanya perlakukan-perlakuan yang berasal dari lingkungan. Hal ini seringkali terjadi karena kurangnya pemahaman orang-orang di sekeliling individu tentang proses dan makna perkembangan remaja.

Kondisi ini sebagaimana digambarkan Dusek (1977) dan Bezonsky (1981), bahwa tingkah laku negatif pada diri remaja, disebabkan adanya perlakuan lingkungan yang kurang sesuai dengan tuntutan atau kebutuhan perkembangan remaja. Pada tahap perkembangan ini, harus didukung oleh pemahaman orang tua terhadap kondisi remaja yang sedang mencari jati dirinya. Oleh karena itu, peran orang tua sebagai kawan dan sahabat lebih diperlukan pada masa ini dari pada peran orang tua sebagai pengatur dan penentu keputusan.

Dari perjelasan di atas dapat dipahami bahwa tingkah laku negatif bukan merupakan ciri perkembangan remaja yang normal, tetapi remaja yang berkembang memperlihatkan kemampuan bertingkah laku yang
pasitif. Remaja memang memperlihatkan tingkah laku yang khas sebagai tanda mereka berkembang sebagai remaja yang normal.

Menurut Blair & Jones, 1964; Ramsey, 1967; Mead, 1970; Dusek, 1977; Besonkey, 1981, mengemukakan sejumlah ciri khas perkembangan remaja sebagai berikut :

  1. Mengalami perubahan fisik (pertumbuhan) paling pesat, dibandingkan dengan periode perkembangan sebelum maupun sesudahnya, pertumbuhan fisik pada permulaan remaja sangat cepat. Tulang-tulang badan memanjang lebih cepat sehingga tubuh nampak makin besar dan kokoh. Demikian juga jantung, pencernaan, ginjal dan beragai organ tubuh bagian dalam bertambah kuat dan berfingsi sempurna.
  2. Memiliki energi yang berlimpah secara fisik dan psikis yang mendorng mereka untuk berprestasi dan beraktivitas. Periode remaja merupaka periode paling kuat secara fisik dan paling kreatif secara mentual sepanjang periode kehidupan menusia.
  3. Memiliki fokus perhatian yang lebih terarah kepada teman sebaya dan secara berangsur melepaskan diri dari keterikatan dengan keluarga terutama orang tua. Dalam beberapa aspek, keinginan yang kuat untuk melepaskan diri dari orang tua belum dibarengi dengan kemampuannya untuk mandiri dalam bidang ekonomi.
  4. Memiliki ketertarikan yang kuat dengan lawan jenis. Pada periode ini, remaja sudah mulai mengenal hubungan lawan jenis bukan hanya sekedar sebagai kawan. Akan tetapi, hubungan sudah mulai cenderung mengarah kepada saling menyukai.
  5. Memiliki keyakinan kebenaran tentang keagamaan. Pada masa ini, remaja berusaha menemukan kebenaran yang hakiki. Apabila remaja mampu menemukannya dengan cara yang baik dan benar,
    maka ia akan memperoleh ketenangan dan sebaliknya bila merasa tidak menemukakan kebenaran hakiki, keyakinannya tentang agama akan menjadi goyah.
  6. Memiliki kemampuan untuk menunjukkan kemandirian. Kemandirian remaja, biasanya ditunjukkan pada kemampuan mereka dalam mengambil keputusan terkait dengan kegiatan dan aktivitas mereka.
  7. Berada pada periode transisi antara kehidupan masa kanak-kanak dan kehidupan orang dewasa. Oleh kerena itu, mereka akan mengalalmi berbagai kesulitan dalam hal penyesuaian diri untuk menempuh kehidupan sebagai orang dewasa. Mereka bingung dalam mengahadapi diri sendiri dan sikap-sikap orang di sekitar mereka yang kadang memperlakukan mereka sebagai anak, namun di sisi lain menuntut mereka bertingkah laku dewasa.
  8. Percarian identitas diri. Pencarian identitas diri merupakan suatu kekhasan perkembangan termaja untuk mengatasi periode transisi seperti dikemukakan sebelimnya. Remaja ingin menjadi seorang yang dianggap benar dalam menghadapi kehidupan ini. Oleh kerena itu, remaja memerlukan keyakinana hidup yang benar untuk mengarahkan mereka dalam bertingkah laku.